Mambaul Hisam
Sun Dec 15 2024
OSR dan Propertinya
Setelah ngebahas tentang pengenalan OSR di tulisan sebelumnya, sekarang kita ketemu lagi dengan bahasan yang kebih dalem nih. Iya lebih dalem, sedalem penderitaan nasib kalian (canda yaa wheheee). Yo langsung aja kita bahas propertynya.
Apa itu property?
Di konteks subjek atau teori, property itu suatu hal yang melekat pada subjek atau teori tersebut. Bagi kalian yang belajar pemrograman terutama yang pake paradigma OOP (pemrograman berorientasi objek) pasti ga asing lagi sama yang namanya property.
Nah bagi kalian yang masih balem tau konsep dari property, begini analoginya. Bayangkan anda mengamati satu batang rokok, kira-kira apa saja yang ada di rokok itu? Tembakau? kertas? mungkin gabus atau ada bumbu didalamnya? Terus rokok itu bisa digunakan buat apa? Dibakar? Dibuat ganjal meja? juga bisa! Itulah yang dinamakan property. Clear ya?
Gak cuma benda yang bersifat nyata dikehidupan sehari-hari yang punya property. OSR juga punya loh dan kita bahas ditulisan ini.
Sekedar tips buat kalian nih, yang masih bingung mahamin suatu teori, ngeliat-liat property dari suatu teori juga suatu hal yang tepat buat mahamin suatu teori tersebut. Dengan mahamin propertynya, kita bisa nih ngebangun koneksi atau relasi antar property sampe bisa jadi teori.
Openness
Abis bahas property tentang property dengan kacamata generalis, mari lanjutin ngebahas property dari OSR ini, yaitu Openness. Property satu ini bisa dibilang penting ga penting sih, kalo dianalogikan OSR ini sebagai rokok, openness itu kaya ngejawab pertanyaan seberapa mahal harga rokok yang Hisam hisap?.
Begitu juga sama openness ini. Misal analogi itu ditarik ke konsep openness, Nanti teori ini bakal ngejawab pertanyaan seberapa terbukanya model pada data baru yang model proses?.
Ets, jangan pusing dulu. Dibalik jargon openness ini juga ada matematikanya. Ada 2 pendapat yang beda soal formulasi matematikanya. Pertama dijelasin di papernya WJ Scheirer dan yang kedua dijelasin di paper survey-nya Chuanxing Geng. Terus yang bener mana? oops, aku ga tau. Tapi aku saranin buat buka papernya Chuanxing Geng aja. Disitu juga ngejelasin secara detail soal persamaan yang dipake sama WJ Scheirer.
Tapi, dari 2 persamaan yang datang dari orang yang beda punya output yang sama yaitu nilai dari openness ini yaitu bilangan desimal direntan 0 sampai 1. Terus gimana nginterpretasiinnya? Gampang! Kalo hasilnya nol, itu sama aja kaya klasifikasi konvensional. Semakin nilainya ngedeketin satu, berarti model semakin terbuka nih sama data baru.
Terus apa gunanya? tentu buat ngejudge suatu model. Misal performa model yang kalian latih itu akurasinya 99% tapi katakanlah opennessnya itu cuma 0.1, ya berarti performa 99% dengan openness 0.1. Jadi, sebuah metrik itu ga bisa dipisahin sama yang namanya openness kalo ngomongin OSR loh ya.
Tapi, apakah dengan nambahih openness punya pengaruh ke metrik? Aku ngehipotesisin Iya. Tapi perlu nyelidikin lebih lanjut sih untuk ini.
Kesimpulan
Setelah kenalan sama salah satu property dari OSR yaitu openness, masih ada property lain lo! Tunggu aja di tulisan selanjutnya, hehehee :).